Prodi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam, di setiap semesternya kerap kali mengadakan kegiatan-kegiatan akademik yang konstruktif demi terciptanya kultur belajar yang baik di lingkungan Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pendidikan Indonesia. Di antaranya dengan memberikan kuliah umum dengan pemateri atau narasumber yang pakar di bidangnya. Adapun pada awal semester 2020/2021, Prodi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam mengadakan kuliah umum di lingkungan FPEB pada hari Selasa, 15 September 2020 dengan Narasumber bapak Dr. Ali Sakti, M.Ec. Saat ini narasumber berprofesi sebagai tenaga ahli di DEKS (Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah) di Bank Indonesia.

Adapun topik yang beliau kaji adalah mengenai Ekonomi islam dari sisi yang lebih komprehensif. Acara ini dibuka oleh Dekan FPEB, yaitu Prof. Dr. Eeng Ahman, MS. yang juga didahului dengan laporan dari Kaprodi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam, Dr. A. Jajang W. Mahri, M.Si. Dalam laporannya Kaprodi menyebutkan bahwasanya acara tersebut dihadiri oleh lebih dari 900 peserta dari kalangan civitas akademika di FPEB yang mengambil mata kuliah Ekonomi dan Bisnis Islam. Selain itu, mahasiswa luar UPI yang tergabung dalam Program PERMATA SAKTI pun turut berpartisipasi di event ini. Acara tersebut disaksikan secara live di zoom meeting dan juga di kanal youtube FPEB official secara bersamaan.

Di awal paparannya Dr. Ali Sakti menyebutkan bahwasanya perihal permasalahan ekonomi yaitu krisis ekonomi pada tahun 2008 dan krisis utang di amerika dan eropa pada tahun 2011. Krisis di Amerika dijuluki great recession. Negara-negara dengan Lembaga keuangan pun mengalami krisis keuangan bahkan amerika dikategorikan mendapat utang 100 persen dari GDPnya serta mengakibatkan munculnya tingkat ketimpangan antara kaya dan miskin di Amerika. Dalam data pada akhir krisis 2008 20 persen dari GDP setelah beberapa waktu sampai mencapai 200 persen hanya dinikmati oleh 1 persen dari penduduk Amerika.

            Dalam krisis ekonomi tahun 2011 dari beberapa negara Eropa yang paling buruk yaitu Yunani rasio utangnya  hampir 120 persen dibandingkan dengan GDP. Sedangkan yang paling bagus jerman rasionya 83 persen. Oleh sebab itu apa yang terjadi ketika itu menjadi pelajar untuk kita dalam mengembangkan sektor keuangan.

            Hal hal seperti itu sampai kepada beberapa kesimpulan, salah satunya something wrong karena krisis semakin sering terjadi. Munculah banyak kritikan bahwa harus ada perbaikan yang signifikan terhadap sistem ekonomi. Akhirnya masyarakat yang terbentuk semakin hari terlihat semakin buruk, karena kelompok miskin semakin tidak menjaga kehormatan dan orang kaya semakin asik dengan keserakahannya. Ini yang harus dibenahi, makanya muncul kritik terhadap sistem bahwa prinsip prinsip ekonomi perlu diubah dan diperbaiki bukan sekedar berganti-ganti kebijakan.

            Pada kondisi kekinian kita menghadapi masalah yang kompleks diantaranya digitalisasi, perubahan iklim, menurunnya globalisasi dan pandemi. Karena pandemi banyak negara menutup akses sehingga tidak dapat bermain di pasar global. China sebagai negara pertama yang mengalami krisis walaupun hanya mendapat 16 persen asset dunia tapi merupakan bengkel utama dari produksi. Sehingga mengakibatkan sulitnya distribusi barang kepada negara lain. Keynesian mencoba mensupply uang ekonomi agar merangsang demand, yang menitik beratkan pada negara dan teori invisible hand.

            Ekonomi syariah di gadang-gadang dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru, salah satu variable nya yaitu ekonomi syariah. Di Indonesia dimotori oleh perbankan syariah, asuransi syariah, industri halal dan lainnya yang membuat semua orang mendalami lagi  perannya dalam ekonomi syariah. Perkembangan ekonomi syariah ini sedang menjadi perhatian di luar negeri karena terdapat perbedaan dengan perkembangan di luar negeri.

            Jika dalam ekonomi konvensional masalah ekonomi adalah kelangkaan. Namun dalam ekonomi syariah terdapat perbedaan pendapat, dalam ekonomi islam mereferensi pada wahyu, karena sumber ilmu bukan hanya observasi tetapi juga harus mengambil apa yang menjadi aturan Tuhan yang disebut kitab suci. Perbedaan utama dan pertama antara ekonomi konvensional dan ekonomi syariah adalah sumber ilmu, ekonomi syariah bersumber pada Tuhan bahwa prinsip yang Allah jelaskan dalam wahyunya memiliki satu benang merah yaitu ekonomi adalah masalah menjamin berputarnya harta diantara manusia, sehingga manusia dapat memaksimalkan hidupnya sebagai hamba Allah untuk mencapai falah di dunia dan akhirat.

            Ekonomi sebagai instrumen untuk melaksanakan tugasnya beribadah kepada Tuhan. Berdasarkan riset volume transaksi yang ada di pelacuran di Indonesia ada 324.000 pelacur dengan pelanggan 1:37, sebagai ekonom total general 12 juta pelanggan, jika 1 pelanggan menghabiskan 1 juta satu bulan maka setidaknya volume transaksi 1 bulan mencapai 12 triliun dan  144 triliun selama satu tahun. Jika kita menanamkan akhlak yang baik kita dapat menyelamatkan transaksi transaksi maksiat untuk pembiayaan yang lain. karena harta adalah instrumen yang paling efektif dalam membuat manusia sebagai makhluk bermanfaat.

Menurut ekonomi syariah, ekonomi adalah aktifitas kolektif bukan individu. Ekonomi syariah diturunkan dari nilai-nilai islam yaitu akidah, akhlak dan syariah.dengan implikasinya akan memperbaiki sirkulasi ekonomi. Saat kita melakukan infaq, dan wakaf maka distribusi ekonomi akan terjadi. Syariah membuat sistem ekonomi menjadi benar, saat seseorang memiliki pendapatan mereka wajib membayar zakat agar seseorang yang tidak memiliki pendapatan dapat menggunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tidak boleh ada riba agar sirkulasi ekonominya dapat maksimal.

            Rasionalitas Ekonomi konvensial menurut Jeremy Bentham kesenangan yang paling besar adalah jumlah yang paling banyak. Perbedaan kedua ekonomi syariah dan konvensional adalah dimensi yang diadopsi. Dalam ekonomi konvensional kepuasan hanya materi saja tetapi di ekonomi syariah kepuasaan terdapat dalam materi dan imateri, bukan hanya dunia tapi juga akhirat. Dengan ekonomi syariah kita merubah banyak definisi, salah satunya definisi Bahagia, yaitu Bahagia saat kita melihat orang lain Bahagia..

            Islam menggunakan paradigma berbeda dengan akidah dan akhlak disempurnakan oleh syariah akan menciptakan iman dan moral. Akan memunculkan manusia manusia yang lebih peduli kepada orang lain. Ketika ada instrumen yang mempengaruhi diri manusia maka manusia akan fokus kepada kebutuhan bukan pada keinginan efeknya yaitu hidup sederhana, fokus pada amal shaleh, dan  kolektifitas. Semua didalam syariah boleh kecuali ada dalil yang melarangnya.

            Yang menjadi substansi ekonomi syariah adalah perputaran barang dan jasa makanya ada sektor sosial yang dapat dilakukan dengan jual beli, investasi, zakat, infak-sedekah, dan wakaf. Perputaran barang dan jasa akan optimal apabila tidak hanya memasukkan transaksi secara syariat tetapi secara moral juga. Secara jangka panjang, zakat dapat meningkatkan transaksi di perekonomian tanpa inflasi

Larangan riba, judi dan spekulasi, dalam dunia modern saving tidak sama dengan investasi sehingga sirkulasi uang tidak optimal. Saat ada riba, akan menurunkan sirkulasi barang dan jasa apalagi dengan adanya judi dan spekulasi maka akan menurunkan sektor riil.

Dalam ekonomi dikenal dua sektor besar yaitu public/ pemerintah dan private/ swasta. Government biasanya memproduksi public goods kalau commercial goods biasanya oleh private/ swasta. Dalam ekonomi syariah di sektor pemerintah dan swasta dapat dibantu dengan sektor sosial.

Ekonomi syariah menjadi sumber pertumbuhan baru. Begitupun di Indonesia yang awalnya oleh perbankan syariah kemudian muncul asuransi syariah, pegadaian syariah, industri halal, dll. Sehingga ekonomi islam dapat dijadikan solusi terhadap masalah yang ada di Indoneasia dan Dunia terutama saat pandemi seperti saat ini. Untuk link kuliah umum ini bisa disaksikan di https://www.youtube.com/watch?v=kSdaKO7eyHU&t=2120s 

Semoga harapan tersebut bisa menjadi kenyataan dalam waktu dekat. aamiin.