Pengalaman bersama warga global merupakan pengalaman yang tidak terlupakan dan mengesankan. Setidaknya Isnaeni Gelda, mahasiswa Prodi Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam, FPEB, UPI merasakan experience tersebut dalam salah satu even internasional yaitu AWMUN III. Berikut sharing dari Gelda.

Asia World Model United Nations (AWMUN) III adalah Model PBB yang mengusung tema ”The Implementation of World’s Agenda 2030”. Kegiatan ini diadakan pada tanggal 13-16 November 2019 di Bali, Indonesia. Asia World Model United Nations (AWMUN) III bertujuan untuk memfasilitasi para pemimpin muda dari berbagai negara untuk memperluas jaringan serta menyediakan platform untuk berbagi perspektif, khususnya tentang Tujuan Pembangunan Berkelanjutan ( Sustainable Development Goals – SDGs) yang akan dibahas di setiap dewan. Even berskala internasional ini juga merupakan wadah bagi para delegasi dari seluruh dunia berkumpul di satu tempat untuk meningkatkan keterampilan dalam kepemimpinan, negosiasi, dan diplomasi.

Menjadi seorang delegasi dari AWMUN III dilakukan tahap seleksi, mulai dari tahap pertama yaitu menjawab pertanyaan dalam form berkenaan dengan data diri hingga motivation letter untuk berebut kursi dengan 36.803 pendaftar dari seluruh dunia. Selanjutnya apabila telah dinyatakan lolos, delegasi diwajibkan untuk membuat position paper yang akan didiskusikan dan diperdebatkan dalam kelas dewan.

Pengumuman lolos seleksi ditandai dengan pengiriman LoA

Pada kesempatan kali ini, Isnaeni Gelda Prasetianti mahasiswi angkatan 2016 Ilmu Ekonomi dan Keuangan Islam (IEKI), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) berhasil menjadi salah satu delegasi Asia World Model United Nations (AWMUN) III dari 1.289 fix delegasi di 78 negara.

OIC Council Class

Pada agenda committe session, delegasi akan berdiskusi tentang masalah yang disebutkan untuk setiap tujuan dari dewan yang telah ditetapkan. Isnaeni Gelda mendapatkan tugas menjadi representatif/wakil dari Negara Tajikistan pada komite Organization of Islamic Cooperation (OIC) dengan topik yang telah ditentukan untuk diperdebatkan yaitu ”Discussing the Roles of Member States and the OIC in Response to the Ongoing Refugee Crisis”.

Sesi diskusi bersama tim

Diskusi dan debat dalam konferensi AWMUN ini dipandu oleh seorang Head Chair, Co-Chair dan Rapporteur. Dan pada akhir sesi diadakan sidang khusus untuk menentukan dan membuat draft resolution. Draft resolution adalah output akhir dari konferensi MUN.

Isnaeni Gelda bersama Co-Chair (Turkey), Head Chair (India) dan Rapporteur (Malaysia) OIC

Isnaeni Gelda bersama delegates of OIC Council

Isnaeni Gelda bersama delegates of OIC Council

Pada hari selanjutnya, Isnaeni Gelda mengikuti agenda coastal clean-up di Pantai Mertasari bersama seluruh delegasi AWMUN III. Coastal clean-up adalah salah satu bentuk gerakan peduli lingkungan laut dan pesisir pantai dari sampah dengan melakukan pembersihan akbar.

Agenda coastal clean-up

Agenda coastal clean-up

Pada malam hari terakhir diadakan penutupan AWMUN III dengan mengusung konsep cultural night. Pada agenda cultural night kali ini, Isnaeni Gelda mempersembahkan baju adat songket khas Jawa untuk mewakili Indonesia.

Songket Jawa menjadi baju adat Indonesia yang dipersembahkan Gelda di AWMUN III

Isnaeni Gelda bersama delegasi yang mempersembahkan baju khas negaranya

Isnaeni Gelda bersama delegasi yang mempersembahkan baju khas negaranya

Adapun Closing statement dari Isnaeni Gelda, ”Salah satu kunci yang saya pegang selama menjadi seorang pelajar adalah BELAJAR. Karena kita adalah seorang pelajar dan tugas utama kita adalah belajar. Mengejar pendidikan terbaik bukan hanya ada di dalam kelas saja, namun sejatinya apa yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan adalah pendidikan. Maka pintar-pintarlah memilih jalan, karena kemana kita melangkah itulah yang akan menjadi pondasi awal masa depan kita.”